KADER IPM DENGAN JATI DIRI KE-INDONESIAAN

7135858_20140906021139-750x499

Indonesia saat ini memasuki usia 70 tahun, tidak lama lagi, 30 tahun kemudian Indonesia akan memasuki usia seabad. Tepat saat tahun 2045 Indonesia memasuki usianya yang ke-100 tahun atau 1 abad sejak kemerdekaan Republik Indonesia. Indonesia mencanangkan visi “Indonesia Emas” pada tahun 2045. Indonesia Emas dapat diintrepretasikan sebagai masa kejayaan bangsa Indonesia yang dapat dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Kejayaan menuju Indonesia Emas 2045 perlu dipersiapkan dari sekarang dengan penuh konsistensi.

Indonesia kekinian memiliki identitas sebagai bangsa besar. Rumah bagi 1.128 suku bangsa dengan 746 bahasa dan memiliki keragaman flora dan fauna yang dikagumi dunia. Karunia alam dan sumber daya manusia yang melimpah harusnya mampu menjadikan Indonesia sebagai Negara maju yang dihormati segala bangsa. Akan tetapi sekian lama kemerdekaan kita rasakan, mengapa bangsa ini masih menjadi bangsa yang terseok-seok, terhipnotis oleh kapitalisme dunia di bawah kaki-kaki para pemiliki modal?

Michael J Bonnel dalam Yudhi Latif (2015) pernah mengungkapkan bahwa suatu Negara akan maju bukan ditentukan oleh usia perdabannya, sumber daya alamnya, atau kecerdasan bangsanya. Bangsa kita telah maju peradabannya semenjak zaman sriwijaya dan majapahit, melimpah sumber daya alamnya hingga dikenal sebagai Zamrud Katulistiwa, dan cerdas-cerdas anak bangsanya hingga sering menjuarai olimpiade internasional, tetapi yang kurang dari bangsa kita adalah tidak kenal pada diri sendiri, tidak percaya diri, tidak punya pendirian, dan tidak punya aktualisasi diri.

Dalam mencapai itu semua, bangsa kita harus belajar dan berproses secara mendalam baik secara keilmuwan, kemampuan maupun nilai-nilai kebangsaan. Secara keilmuwan kita patut memahami sejarah bangsa sehingga tidak terjebak pada lubang yang sama di masa lalu. Secara kemampuan kita harus mengasah bakat dan minat kita sehingga menjadi berguna bagi orang lain. Kita juga sangat perlu untuk mendalami keagamaan kita, agama islam demi terwujudnya perangai baik yang membawa negeri ini dalam kedamaian dan kesejahteraan

Genealogi Lahirnya Indonesia dan Peran Intelejensia Muslim Indonesia

Elemen apa saja yang menjadi penyusun dari lahirnya sebuah bangsa? Elemen tersebut diantaranya adalah: 1) bahasa, 2) adat istiadat, 3) wilayah kekuasaan, dan 4) raja atau penguasa. Sumpah Pemuda 1928 menandakan suatu perubahan yang fundamental dalam titik kebangsaan kita dimana para pemuda menyatakan sumpahnya untuk membangun satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa Indonesia. Selain itu, Yudhi Latif mengatakan, bangsa Indonesia terbentuk karena adanya persamaan geopolitik, persamaan sejarah dan persamaan kemauan.

Lahirnya bangsa Indonesia dan dicapainya kemerdekaan oleh pendiri bangsa ini tidak lepas dari semangat perjuangan kaum muslim. Nasionalisme itu alat perjuangan kaum muslim melawan penjajahan. Hubbul wathon minal iman, cinta negara itu sebagian dari iman. Nasionalisme Indonesia itu anak kandung umat Islam, hasil dari para pejuang Islam.

Islam yang diwakili oleh pemberontakan ulama dan kaum santri menjadi nyala api yang mengobarkan perlawanan terhadap penjajah. Ruang publik pertama di nusantara ini diawali pada jaringan keagamaan seperti masjid, surau, dan pesantren. Faktor penting yang memunculkan semangat perlawanan terhadap kolonialisme adalah agama Islam, dimana semangat egalitarianisme Islam mendobrak cara pandang feodalisme yang begitu dominan di nusantara saat itu. Sejak awal tokoh-tokoh penting yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah para pejuang Islam.

Pada tahun 1850-an dengan latar belakang politik perkebunan di nusantara, Belanda membutuhkan tenaga administratif rendahan untuk mendukung kemajuan industri perkebunan maka mulai bermunculan sekolah Eropa di nusantara. Didukung dengan munculnya kebijakan ‘Politik Etis’ pada 1900-an, maka terbentuklah generasi pertama ‘intelejensia’ atau kelompok terdidik dalam pendidikan Barat di nusantara.

Generasi pertama intelejensia adalah generasi HOS Cokroaminoto, H. Agus Salim, Dr. Cipto Mangunkusumo dan Dr. Sutomo. Mereka adalah generasi yang disebut sebagai genarasi ‘proto nasionalisme’, yaitu generasi yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa walaupun masih berlatar belakang keagamaan dan kedaerahan. HOS Cokroaminoto mendirikan Sarekat Islam pada tahun 1911. Sarekat Islam pada 1919, anggotanya mencapai 2,25 juta orang. HOS Cokroaminoto, Ketua SI, dijuluki sebagai Raja Jawa tanpa Mahkota. Saat itu SI menggelar kongres dgn tema Kapitalisme Berdosa, Bersatulah Kaum Melarat.

Jika kita melihat kembali bunyi Pembukaan UUD 1945 disana tercatat, mengantarkan rakyat ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Artinya para pendiri bangsa ini ingin mengatakan bahwa perjuangan bangsa Indonesia belum selesai, perjuangan di alam kemerdekaan itu baru saja dimulai.

Berbeda dengan kondisi bangsa saat ini, pemimpin negeri ini telah kehilangan jiwa nasionalismenya. Karena tidak lagi berpikir menjaga kedaulatan bangsanya, justru yang terjadi sebaliknya, menyerahkannya kepada asing. Freeport dan Blok Cepu menjadi jaminan utang Amerika Serikat kepada China. Presiden Jokowi malah menandatangani perpanjangan kontrak dengan Freeport. Negara melanggar undang-undangnya sendiri dalam kasus Freeport dan Blok Cepu.

Nelson Mandela mantan Presiden Afrika Selatan pernah berkata bahwa berkuasa atau tidak berkuasa itu bisa sama saja nilainya. Seorang presiden yang ketika berkuasa tidak menjaga integritasnya, maka ia tidak punya kemuliaan. Kita perlu kagum dan belajar pada Bung Hatta ketika ia membuat pledoi pembelaan yang berbunyi hanya ada satu tanah airku, dimana tanah air itu hanya tumbuh dengan tindakan nyata yang kita perbuat.

Belajar dari sejarah panjang bangsa ini, pada abad ke 7 sampai ke 13 terdapat tiga dinasti imperium besar yang memimpin dunia dalam waktu yang hampir bersamaan : 1) Dinasti Islam Abbasiyah di Baghdad, 2) Dinasti Tang di China, 3) Dinasti Sriwijaya di Nusantara. Siklus sejarah akan kembali lagi dimana Indonesia akan bangkit menjadi peradaban besar, karena Indonesia adalah sintesa bertemunya dua imperium besar di masa lalu, dinasti Islam Abbasiyah dan dinasti Sriwijaya.

Belajar dari Kebangkitan Negara Lain

Kebangkitan nasional di Cina sangat menarik untuk dikaji, ditelaah dan diperbandingkan dengan kebangkitan nasional di Indonesia. Dilihat dari pendeklarasian kemerdekaan, Indonesia lebih dulu melakukannya yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 dan Cina pada 1 Oktober 1949. Indonesia pun pada pemerintahan Soekarno pernah berlaku seperti Cina, yaitu menutup rapat-rapat pintu investasi asing. Namun sayang usaha Soekarno tumbang di tengah jalan meninggalkan Indonesia memiliki visi ekonomi yang tidak jelas, sedangakan Cina sedang dengan getolnya dibangun oleh seroang visioner Mao Ze Dong. Artikel ini berusaha memaparkan apa yang sebenarnya menjadi faktor distingtif pembeda kebangkitan nasional di Cina dan Indonesia, serta apa yang bisa kita semua pelajari tentang kebangkita Cina secara ekonomi serta kontribusinya untuk kawasan.

Kebangkitan nasional tentu dimaknai sebagai peringatan sakral di Indonesia; tentu karena setiap tahun diperingati setiap 20 Mei dan hari tersebut seyogyanya adalah suatu momen turning point bagi bangsa dan negara untuk bangkit rasa patriotisme dan nasionalismenya. Tapi yang saya lihat sejauh ini, kebangkitan nasional di negara kita tak ubahnya suatu fenomena berkibarnya merah putih di televisi (selain pada acara 17 Agustus-an), maraknya sitkom-sitkom dengan tema perjuangan, pemberian penghargaan ini itu dan tetek bengek lainnya. Bukannya mengenang sejarah bangsa dan menunjukkan nasionalisme hal yang buruk, tapi tidakkah seharusnya kebangkitan nasional dimaknai dengan lebih dalam sebagai perjuangan sampai titik darah penghabisan untuk membangun bangsa??

 Membangun Peradaban Emas 100 Tahun Indonesia

Indonesia memiliki banyak peluang yang besar untuk dimanfaatkan dalam usaha mencapai Indonesia emas 2045. Jika berbicara potensi dan optimisme Indonesia, pesimisme bangsa yang selalu merundung negeri ini melalui pemberitaan media dapat disingkirkan. Potensi sumber daya alam yang sangat melimpah jika dimanfaatkan dengan baik tentu akan membantu mensejahterakan rakyat. Bumi Indonesia yang berada tepat di garis khatulistiwa memiliki kesuburan yang tinggi, sehingga negara ini akan kuat di bidang agroindustri.

Bonus demografi menjadi peluang penting bagi Indonesia. Diperkirakan hingga tahun 2045, populasi penduduk Indonesia akan didominasi oleh penduduk usia produktif. Penduduk dalam kelompok usia ini merupakan penduduk yang aktif dalam kegiatan ekonomi, menggerakkan roda pembangunan dan berada di posisi pemimpin. Bila Indonesia mampu mempersiapkan dan membangun kualitas penduduk usia produktif ini, maka dapat diprediksi Indonesia dapat mengalamidemographyboom. Jika hal tersebut terjadi, Indonesia dapat mengalami pembangunan yang cepat dan berkualitas.

Peran dan Posisi Kader IPM dalam Menyambut 100 Tahun Indonesia

Pertanyaannnya kemudian, apa yang dapat kita lakukan dan generasi muda masa kini dan sebagai kader IPM untuk mewujudkan Indonesia emas 2045? Setiap generasi muda Indonesia harus terlibat dalam setiap tahapan pembangunan Indonesia sesuai dengan bidang keahlian masing-masing. Setiap pemuda perlu menempuh pendidikan yang lebih tinggi agar memiliki wawasan global dan mampu memahami kondisi riil bangsa ini secara kontekstual maupun konseptual.

Kita harus terus mengembangkan diri agar siap membawa estafet kepemimpinan bangsa di masa depan. Terus belajar dan mengenyam pendidikan hingga tingkat paling akhir. Berperan dalam pembangunan sesuai bidang yang kita tekuni. Tidak hanya mencapai pendidikan tertinggi secara formal, tetapi kita juga harus matang secara kelimuwan. Kisah menarik Bung Hatta ketika pulang dari Belanda, beliau membawa pulang koleksi buku bacaannya yang membutuhkan waktu tiga hari pengepakan dan berjumlah sebanyak 16 peti. Dengan jumlah bacaan sebanyak itulah modal intelektual yang disiapkan Bung Hatta untuk menjadi pemimpin bangsa Indonesia, lalu bagaimana dengan persiapan para pemuda saat ini?

Referensi:

Dr. Adian Husaini. Isalam dan Sejarah dan Penyatuan Nusantara

Muhammad Jazir ASP. Tonggak-tonggak Sejarah.

Renne Pattiradjawane. Kebangkitan China, Jepang, dan Korea Selatan

Yudhi Latif. Demokrasi Kebudayaan dan Budaya Demokrasi

Zaim Uchrowi. Membangun Indonesia Madani.

Saran Buku Bacaan:

Hamka. 1982. Islam dan Majapahit. Jakarta: Pustaka Panjimas.

Hatta, M. 1960. Demokrasi Kita. Jakarta: Pandji Masyarakat.

Latif, Y. 2011. Negara Paripurna: Historitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila. Jakarta: Gramedia Pustaka

Utama.

Machmudi, Yon. Islamising Indonesia: The Rise of Jamaah Tarbiyah and Prosperous Justice Party (PKS). Disertasi

tidak diterbitkan di Australian National University, tahun 2006.

[1] Ketua Umum PW IPM DIY Periode 2014-2016. Makalah disampaikan dalam Diskusi Rutin Dwi Mingguan PIP PW IPM DIY hari Rabu, tanggal 29 April 2015.